Indonesia Masuk 10 Besar Negara Pengutang Terbesar di Dunia

Kamis, 15 Oktober 2020 | 10:14:28 WIB

BUNGOINDEPENDENT.ID, JAKARTA – Bank Dunia merilis laporan International Debt Statistics (IDS) 2021 atau Statistik Utang Internasional. Dalam laporan itu, Indonesia masuk ke dalam daftar 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan utang luar negeri terbesar di dunia mencapai USD402,08 miliar atau sekitar Rp5.940 triliun (kurs Rp 14.775) di 2019.

Dikutip dari laporan Bank Dunia, Rabu (14/10/2020), Indonesia menempati posisi ke-7 dari daftar 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan utang luar negeri terbesar di dunia.

Posisi pertama di tempati Cina yang memiliki utang sebesar USD2,1 triliun, Brasil USD569,39 miliar, India USD560,03 miliar, Rusia USD490,72 miliar, Meksiko USD469,72 miliar, dan Turki USD440,78 miliar.

Sementara negara yang menempati posisi di bawah Indonesia, yaitu Argentina dengan utang sebesar USD279,3 miliar, Afrika Selatan USD188,1 miliar, dan Thailand USD180,23 miliar. Posisi utang luar negeri yang dicatat Bank Dunia dalam IDS 2021 itu ialah sampai tahun 2019.

Dalam catatan Bank Dunia, posisi utang luar negeri Indonesia pada tahun 2019 mencapai USd402,08 miliar atau sekitar Rp 5.940 triliun (kurs Rp 14.775). Angka tersebut naik tipis (5,9%) dari posisi utang luar negeri di tahun 2018 yakni USD 379,58 miliar atau sekitar Rp 5.608 triliun dengan nominal nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sama.

Namun, apabila dibandingkan posisi utang luar negeri Indonesia tahun 2019 dibandingkan dengan 10 tahun sebelumnya yakni 2009 ada peningkatan hingga 124%. Adapun posisi utang luar negeri Indonesia pada tahun 2009 sebesar USD179,40 miliar atau sekitar Rp 2.605 triliun (dengan kurs saat ini).

Bank Dunia mencatat, rasio utang luar negeri Indonesia tahun 2019 terhadap ekspor ialah 194%. Sementara, rasio utang terhadap gross national income (GNI) atau pendapatan nasional bruto sebesar 37%. Rasio utang luar negeri Indonesia terhadap pendapatan nasional bruto dari tahun ke tahun memang berada di sekitaran level tersebut, yakni 2009 34%, 2015 37%, 2016 35%, 2017 36%, dan 2018 37%.

Dari total itu, utang luar negeri Indonesia tahun 2019 lebih didominasi oleh utang jangka panjang yakni mencapai USD 354,54 miliar atau sekitar Rp 5.238 triliun. Sementara, utang luar negeri jangka pendek hanya sebesar USD44,79 miliar atau sekitar Rp 661 triliun.

Dilihat dari kategori krediturnya, utang luar negeri 2019 terbesar berasal dari sektor swasta yakni sebesar USD181,25 miliar atau sekitar Rp 2.678 triliun, sementara dari penerbitan surat utang sebesar USD173,22 miliar atau sekitar Rp 2.559 triliun.

Secara keseluruhan, Bank Dunia Mencatat total utang luar negeri dari negara-negara tersebut kecuali Cina mencapai USD 3,6 triliun atau sekitar Rp 53.184 triliun, atau naik 4,6% dibandingkan tahun 2018.

Akumulasi utang negara-negara tersebut, di luar Cina, menyumbang hampir 60% dari total utang luar negeri seluruh negara berpenghasilan rendah-menengah kecuali Cina. Utang luar negeri Cina menyumbang 26% dari total utang luar negeri negara-negara berpenghasilan rendah-menengah.

Sementara itu, IDS jua merilis total utang luar negeri negara-negara termiskin di dunia naik 9,5 persen ke rekor tertingginya di posisi USD744 miliar pada 2019.

“Sebelum pandemi covid-19,naiknya tingkat utang publik sudah memprihatinkan, terutama di banyak negara termiskin di dunia,” kata pemberi pinjaman multilateral dalam sebuah pernyataan selama pertemuan tahunan Kelompok Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), dikutip dariXinhua.

Bank Dunia mencatat, negara G20 mendukung Debt Service Suspension Initiative (DSSI) atau penundaan utang pada April tahun ini untuk membantu 73 negara termiskin mengelola dampak pandemi hingga memungkinkan mereka untuk menangguhkan pembayaran utang bilateral resmi hingga akhir 2020.

Presiden Grup Bank Dunia, David Malpass sebelumnya mendesak negara-negara G20 untuk memperpanjang kerangka waktu DSSI hingga akhir 2021 dan berkomitmen untuk memberikan inisiatif seluas mungkin.

Laporan IDS terbaru menunjukkan bahwa total utang luar negeri negara-negara yang memenuhi syarat untuk program keringanan utang G20 naik ke rekor tahun lalu.

Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak bagi kreditur dan peminjam untuk berkolaborasi guna mencegah meningkatnya risiko krisis utang negara yang dipicu oleh pandemi covid-19.

Laju akumulasi utang untuk negara-negara ini hampir dua kali lipat dari tingkat negara berpenghasilan rendah dan menengah lainnya pada 2019.

“Sangat penting bagi para pemimpin negara termiskin untuk berbicara dan berbicara tentang perlunya beban utang yang lebih ringan dari negara-negara kreditur,” kata Malpass dalam akun Twitter pada Senin. (der/fin)






BERITA BERIKUTNYA

loading...